Yang saya hormati Bapak Wali Kota Bekasi beserta seluruh jajaran, pimpinan KORMI Provinsi Jawa Barat, para ketua INORGA se-Kota Bekasi, rekan-rekan pengurus, para pegiat olahraga dari seluruh penjuru Kota Bekasi, dan seluruh hadirin yang saya cintai.
Sebelum saya bicara panjang, mari kita tundukkan kepala sejenak. Bersyukur. Karena hari ini kita masih diberi napas, masih diberi kaki untuk melangkah, masih diberi tangan untuk saling menggenggam. Nikmat sesederhana itu sering kita lupakan, padahal dari situlah semua gerak dimulai.
Hari ini saya berdiri di sini menerima kembali sebuah amanah. Tapi izinkan saya meluruskan satu hal sejak awal: amanah ini bukan milik Wiwiek Hargono. Bukan. Amanah ini milik ibu-ibu yang setiap Minggu pagi datang ke lapangan membawa anaknya. Milik komunitas sepeda yang berangkat subuh-subuh. Milik para instruktur senam yang suaranya habis demi menyemangati warga. Milik empat puluh enam INORGA yang hari ini duduk di ruangan ini. Saya hanya dititipi. Dan titipan itu akan saya jaga dengan seluruh tenaga saya.
Saudara-saudaraku sekalian, coba kita menoleh sebentar ke belakang. Empat tahun lalu, ketika perjalanan ini dimulai, keluarga kita baru lima belas INORGA. Hari ini, empat puluh enam. Tiga kali lipat. Dan itu bukan sekadar angka di atas kertas laporan. Itu ribuan warga Kota Bekasi yang dulu duduk diam di rumah, sekarang bergerak, berkeringat, tertawa bersama di lapangan-lapangan kita.
Kita hadirkan olahraga bukan di menara gading, tapi di tengah masyarakat. Di Car Free Day. Di gang-gang kampung lewat jalan santai. Di festival BMX dan pushbike tempat anak-anak kecil kita belajar jatuh lalu bangun lagi. Kita latih pegiat olahraga tradisional supaya warisan nenek moyang tidak mati. Kita uji kompetensi para instruktur senam. Bahkan kita bangun SAPA KORMI, karena organisasi zaman sekarang tidak boleh bekerja dengan kira-kira. Harus dengan data.
Dan hasilnya bisa kita lihat bersama. FORNAS 2022, kita membawa pulang sembilan medali. FORNAS 2023, dua puluh medali. FORNAS VIII 2025 kemarin, dua puluh lima medali, dua belas di antaranya emas. Emas kita naik empat kali lipat. Kota Bekasi menjadi penyumbang medali terbanyak ketiga bagi Jawa Barat, dan Jawa Barat berdiri sebagai Juara Umum. Di balik nama besar Jawa Barat di puncak itu, ada keringat warga Kota Bekasi.
Empat penghargaan KORMI Jawa Barat Award kita raih, termasuk Best Management. Tapi kalau boleh jujur, penghargaan yang paling saya banggakan bukan piala di lemari. Penghargaan terbesar kita adalah ini: Indeks Kesehatan masyarakat Kota Bekasi naik, dari 83,55 menjadi 84,43. Artinya apa? Artinya kerja kita menyentuh hidup orang. Karena sejak awal KORMI memang bukan organisasi yang mengejar prestasi. Medali-medali itu bonus. Tujuan kita yang sesungguhnya adalah warga yang lebih sehat, keluarga yang lebih kuat, dan kota yang lebih bahagia.
Untuk semua itu, dari lubuk hati saya yang paling dalam: terima kasih. Terima kasih Pemerintah Kota Bekasi yang tidak pernah lelah mendukung. Terima kasih pengurus periode kemarin, yang waktunya, tenaganya, bahkan kadang uang bensinnya sendiri, diberikan untuk organisasi ini. Terima kasih seluruh INORGA, ujung tombak kita di lapangan. Dan terima kasih warga Kota Bekasi. Kalianlah alasan semua ini ada.
Empat tahun berjalan bersama, banyak hal yang tidak tercatat di laporan tapi tersimpan di hati saya. Saya ingat wajah ibu-ibu yang dulu malu-malu ikut senam, sekarang justru paling depan barisannya. Saya ingat anak-anak pushbike yang jatuh, menangis sebentar, lalu naik lagi ke sadelnya. Saya ingat kita hujan-hujanan di lapangan, panas-panasan di Car Free Day, dan tetap pulang dengan tertawa. Itulah wajah KORMI yang sesungguhnya: sederhana, gembira, dan dekat dengan masyarakat.
Tapi saya berdiri di sini bukan untuk mengajak kita berpuas diri atas masa lalu. Tepuk tangan itu untuk kemarin. Hari ini, mari kita bicara tentang besok. Periode baru bukan garis finis. Periode baru adalah garis start. Dan justru karena kita berani jujur pada data kita sendiri, kita tahu pekerjaan rumah kita masih banyak. Kegiatan kita masih didominasi anak muda usia produktif. Lalu di mana anak-anak balita kita? Di mana bapak-ibu kita yang usianya di atas empat puluh, lima puluh? Mereka juga punya hak yang sama untuk sehat. Festival kita juga belum menjangkau semua wilayah. Artinya, masih ada warga Kota Bekasi yang menunggu kita datang.
Karena itu pintu KORMI Kota Bekasi akan selalu terbuka lebar. Kepada komunitas-komunitas olahraga yang belum bergabung, dari komunitas lari, sepeda, senam, sampai pegiat olahraga tradisional dan permainan rakyat: mari masuk, mari berkeluarga dengan kami. Empat puluh enam INORGA bukanlah angka akhir. Selama masih ada warga yang ingin bergerak, selama itu pula keluarga ini akan terus bertambah.
Lima Janji Gerak 2026–2030
- 1.Merata — olahraga masyarakat harus hadir di dua belas kecamatan dan menyapa lima puluh enam kelurahan, tanpa kecuali.
- 2.Menyeluruh — dari pushbike anak-anak sampai senam lansia, karena hak untuk sehat dan bahagia tidak mengenal umur.
- 3.Modern — SAPA KORMI kita sempurnakan menjadi rumah digital olahraga masyarakat.
- 4.Menjadi tuan rumah — setiap tahun Kota Bekasi menghadirkan sedikitnya satu kegiatan olahraga masyarakat berskala nasional, yang menggerakkan roda ekonomi kota — dari penginapan, kuliner, transportasi, hingga UMKM kita.
- 5.Menghidupi — setiap kegiatan KORMI, besar maupun kecil, harus menjadi panggung bagi UMKM dan ekonomi kreatif, karena Kota Bekasi sedang melangkah menjadi Kota Industri Olahraga, bagian dari cita-cita besar Indonesia Bugar 2045.
Kepada para pengurus yang hari ini dilantik: surat keputusan di tangan Saudara bukan sekadar kertas kehormatan, melainkan kontrak pengabdian. Jabatan di KORMI artinya siap turun ke lapangan, siap panas-panasan, siap lelah demi warga Kota Bekasi. Dan saya yakin Saudara-saudara semua siap, karena itulah alasan kita ada di ruangan ini. Mari kita pegang cara kerja kita, cara kerja WIKEN, maskot kita: mengajak, bukan menekan. Merangkul, bukan memaksa. Karena olahraga masyarakat urusannya bukan menang-kalah, tapi gembira bersama.
Saya juga ingin menitipkan harapan kepada semua pihak yang selama ini menjadi kekuatan kita. Kepada Pemerintah Kota Bekasi, mari kita teruskan kemitraan yang sudah terbukti membuahkan hasil. Kepada dunia usaha, pintu kolaborasi kami terbuka, karena setiap rupiah yang ditanam di olahraga masyarakat akan kembali dalam bentuk warga yang sehat dan produktif. Kepada rekan-rekan media, teruslah menjadi corong yang mengabarkan gerak baik ini ke seluruh penjuru kota. Dan kepada anak-anak muda Kota Bekasi: jangan hanya jadi penonton di layar gawai. Turunlah ke lapangan, sebab kota ini kelak ada di tangan kalian, dan kota yang kuat hanya lahir dari generasi yang sehat.
Saudara-saudaraku, saya tutup dengan pesan yang selalu saya pegang ke mana pun saya pergi. Kejar kesehatan, kejar prestasi, kejar semua cita-cita itu. Tapi di atas segalanya, satu hal jangan pernah kita tinggalkan: jangan lupa bahagia.
Pantun Penutup
Burung wiwik terbang ke rawa,
hinggap sebentar di dahan kenari.
Mari bergerak dengan gembira,
Kota Bekasi sehat, keren, berseri.
Terima kasih. Billahi taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

